Laman

Rabu, 09 Mei 2012

MENJADI “PELATIH” EMOSI DALAM KELUARGA Oleh dr.Amir Zuhdi



Ibu Jasmin, demikian ia dipanggil kesehariannya, adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang skaligus wanita karir di salah satu perusahaan di negeri ini. Beliau merasa sudah terlambat untuk pergi ke kantor, padahal 30 menit kemudian ia telah merencanakan rapat rutin pimpinan di perusahaan tersebut. Saat itu… ibu Jasmin sedang meminta (dengan sedikit memaksa)….John anak semata wayangnya yang masih berumur 3 tahun untuk mengganti pakaiannya, agar dapat segera ke tempat Orangtua Ibu Jasmin yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya untuk “menitipkan” anaknya.
Setelah cepat-cepat makan pagi dan ribut sedikit mengenai pakaian mana yang akan dipakai dan dibawa, John pun jadi tegang. Ia tidak peduli ibunya harus menghadiri rapat dalam waktu 30 menit lagi. Kata John ,“Ibu,….John ingin tinggal dirumah saja dan bermain bersama ibu, ibu nggak boleh pergi”.
Ketika ibu Jasmin mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin, ibu harus pergi ke kantor  dan tidak bisa ditunda karena harus ikut rapat sekarang, maka muncullah ketegangan diantara mereka berdua. Ketegangan mereka nampak memuncak,….dan…. seperti yang pembaca terka,…kemudian…. John pun menjatuhkan dirinya ke lantai,… menangis sekeras-kerasnya karena sedih dan marah kepada ibunya.
            Sahabat Golden Family yang berbahagia, kisah diatas menunjukkan adanya dinamika emosi yang senantiasa berkembangan dalam diri anak. Dalam kondisi seperti ini, semua orangtua akan menghadapi masalah yang sama yakni bagaimanakah menghadapai anak ketika emosinya semakin “memanas”. Kebanyakan dari orangtua akan memperlakukan anaknya dengan sebaik-baiknya namun kadang kebaikan itu dibumbui dengan tawaran “sogokan” pada anak agar anak mau mengikuti kemauan orangtuanya seperti memberi janji membeli mainan yang bagus asal anak tidak menangis lagi. Padahal, bukan mainan yang bagus tersebut yang dituntut dan dibutuhkan oleh anak, apalagi disertai “sogokan” yang bisa memberi dampak jelek pada anak. Anak hanya membutuhkan ajaran bagaimana mengenali dan mengelola emosiya yang kini sedang tidak baik. Oleh karenanya para orangtua membutuhkan lebih banyak dari hanya sekedar kemampuan intelektual (IQ) untuk menangani berbagai problematika anak.
            Menjadi orangtua yang baik seharusnya dapat menyentuh dimensi kepribadian yang sering kali terabaikan bahkan tidak jarang orangtua telah mengambil keputusan-keputusan penting yang kurang matang karena diambilya disaat marah. Menjadi orangtua yang baik seharusnya melibatkan emosi dan spiritualitas dalam menyikapi berbagai dinamikan kehidupan keluarganya.
Kehidupan keluarga sesungguhnya merupakan sekolah kita dan yang pertama pelajaran yang harus kita pelajari adalah pelajaran emosi, demikian yang di katakana oleh Daniel Goleman, seorang psikologi dan penulis buku terlaris Emotional Intelligence. Beliau mengatakan bahwa dalam wadah besar keluarga yang sakral, kita belajar bagaimana merasakan tentang diri kita sendiri dan bagaimana orang lain bereaksi terhadap perasaan kita. Demikian juga, bagaimana memikirkan perasaan ini dan pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi, bagaimana membaca dan mengungkapkan harapan serta perasaan takut agar tidak berdampak kurang baik.
            Menjadi “pelatih” emosi dalam keluarga dapat kita latih dengan cara melakukan dan mengatakan secara langung pada anak saat anak sedang mengalami emosi (positif/negatif)  atau memberi contoh-contoh bagaimana orangtua menangani perasaannya disaat berkomunikasi dengan istrinya/suaminya. Memang ada, orangtua yang bisa menjadi “pelatih” emosi yang berbakat, ada juga yang kurang berbakat meskipun tetap bisa di asah bila memiliki kemauan yang kuat.
Sahabat, …bagaimana kalau sekarang saya ajak untuk menyelesaikan masalah yang di alami oleh Ibu Jasmin di atas?  Mau kan?. Dengan demikian kita bisa langung praktek bagaimana menjadi “pelatih” emosi yang baik tanpa harus ikut workshop dan seminar keluarga yang sering saya lakukan.
Langkah pertama adalah kita harus menyadari adanya emosi anak:
Jasmin       : Ayo , pakai pakaianmu , John. Sudah waktunya pergi.
John          : Tidak ! Aku tidak mau pergi ke tempat ke tempat nenek.
Jasmin       : Kamu tidak mau pergi ? Mengapa tidak ?
John          : Karena aku ingin di rumah saja bersama Ibu.
Jasmin       : Oh begitu.
John          : Ya , aku sangat ingin dirumah saja.
Langkah kedua adalah mengakui emosi anak sebagai proses pembelajaran anak:
Jasmin       : Wah , Ibu rasa Ibu tahu perasaanmu. Suatu hari Ibu ingin bisa duduk santai di kursi dan melihat-lihat buku bersamamu , bukannya buru-   buru pergi. John sudah tahu kan ? Ibu sudah ada janji penting dengan orang-orang di kantor. Ibu harus ada di sana 30 menit lagi dan Ibu tidak bisa melanggar janji itu.
John (mulai menangis)      : Tapi , mengapa tidak bisa ? Ibu jahat. Aku tak mau pergi.
Langkah ketiga adalah mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak saat itu:
Jasmin       : Kemarilah sayang (panggilan kesayangannya). (Sambil memangkunya). Maafkan Ibu , ya sayang , tapi kita tak mungkin tinggal di rumah. Ibu tahu ini membuatmu tidak enak , bukan ?
John          : Ya (sambil mengangguk).
Jasmin       : Dan sedikit sedih ya nak.
John          : Ya.
Langkah keempat adalah menemukan label emosi yang sedang dialami oleh anak:
Jasmin       : Ibu juga sedih. (Ia membiarkan John menangsi sebentar dan terus memeluknya sambil mengusap air matanya). Ibu tahu apa yang dapat kita lakukan. Nanti kita pikirkan besok pagi karena besok Ibu tidak pergi ke kantor. Kita bisa seharian bersama. Apa yang ingin kamu lakukan besok,sayang ?
John          : Makan panekuk dan nonton film kartun ?
Jasmin       : Tentu , bagus sekali. Lainnya lagi ?
John          : Bisa tidak aku membawa keretaku ke taman ?
Jasmin       : Ibu rasa bisa.
John          : Bisa tidak Eko ikut juga ?
Langkah kelima adalah menentukan batas-batas emosi dan membantu memecahkan masalah anak:
Jasmin       : Barangkali. Kita harus Tanya ibunya dulu. Tapi sekarang kita harus pergi , Ya ?
John          : Ya.

Alangkah bahagianya keluarga kita, anak-anak kita bila para orang tua trampil menjadi “pelatih” emosi anaknya. Yuk…menjadi pelatih emosi keluarga kita…!

DokterKeluarga Emas, Pendiri IGF (Indonesian Golden Family), Direktur GoldenFamilyInstitute, Deklarator INS (Indonesian Neuroscience Sosiaty, Parenting Neuroscience,
Pembicara Berbagai Seminar Golden Family.

Twitter                        :@amirzuhdi
Facebook         : http://www.facebook.com/dr.amir.zuhdi
Email               : dr.amir_zuhdi@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar